Sunday, August 12, 2018

“Iman Standar, Islam Biasa, Masuk Surga, Alhamdulillah”



Suatu hari, ada seseorang bertanya kepada saya,
“Sob, Jadi orang islam itu yang biasa-biasa ajalah, gausah ekstrim-ekstrim banget”
Awalnya saya hanya bisa tersenyumin, sebelum akhirnya saya tanya lebih lanjut,

“Maksudnya jadi islam biasa dan islam ekstrim itu gimana ya bro ?”

"Iya itudeh bro,
"Kalo mau salaman sama cewek, ya biasa aja, salaman aja, gak usah kayak gini *mencontohkan cara menolak jabat tangan dengan mempertemukan kedua telapak tangan*. Lebay banget.
Terus belum lagi, kalo cewek mau pakai jilbab yaa biasa-biasa aja, gak usah sampe lebar-lebar banget, panjang-panjang, tangan harus ketutup semualah, ada yang cadaran pula. Yaa agak fashion trendy gitu lah bro, jangan saklek banget."

*dan beberapa contoh lain*

Yang terlintas dalam pikiran saya—dan mungkin pikiran anda yang sedang membaca ini,
“Apa iya, cukup ‘islam biasa-biasa aja’ ?”
“apa iya punya iman cukup yang standar-standar aja ?”
Apakah cukup, untuk perkara akhirat yang lebih besar, lebih kekal, lebih panjang perjalanannya, kita ngakunya “standar-standar aja” ?
Jika kita cukup punya “iman standar”, maka sebenarnya, standar apa atau standar siapa yang harus kita gunakan ?

Untuk kita yang sudah lama bergulat dengan sebongkah permasalahan dunia, sepatutnya langsung tersadarkan. Bahwa sebenarnya, kita tidak pernah menggunakan “kualitas standar” dalam urusan dunia kita.

Contoh saja, sewaktu duduk di bangku sekolah, kita selalu berlomba mendapatkan nilai tertinggi. Meloncat ke bangku kuliah, kita selalu berusaha mengukir IPK tertinggi, cumlaude/Summa cumlaude menjadi hiasan yang sangat dibanggakan dan diidamkan. Berlanjut ke masa pencarian kerja, kita selalu berlatih, berpakaian terbaik, perkataan terbaik, pengorbanan waktu terbanyak, untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, bahkan pekerjaan terbaik dan diimpikan. Semuanya, terhubungkan dengan kalimat “terbaik”. “Terbaik” usahanya, keringatnya, waktunya, dan segala-galanya. KENAPA ? simple, karena hanya yang terbaik yang akan mendapatkan apa yang diinginkan.

Lalu, tidakkah kita tersadar…

Jika untuk urusan Dunia saja kita sepantasnya berlaku totalitas, mengenakan pakaian khusus saat berangkat sekolah/berangkat kerja, melakukan tindakan secara profesional—datang harus tepat waktu bahkan sebelum waktu masuk harus sudah hadir, kondisi badan dalam keadaan fit, berkata dengan tutur yang ramah—kalau nggak ramah nanti dimarahin bos atau pak guru, atau atasan lainnya , dan tidak lupa, membaca buku panduan/standard Operating Procedure (SOP) yang dirancang sedemkian rupa, harus ngikutin apa kata bos. Belum lagi harus selalu update ilmu, lewat pelatihan, training course, seminar, dan semacamnya. Tentunya, ini SANGAT menyita waktu kita. 

Tapi hebatnya, kita tidak pernah mengeluh…

Kita tidak pernah mengeluh, kenapa sih saya harus mengikuti peraturan kantor/sekolah ? kenapa sih saya harus pakai seragam sekolah/kantor ? Kenapa saya harus Sehat sewaktu ngantor ? Kenapa saya harus datang pagi, pulang sore, kenapa saya…bukan orang lain ?

Semua untuk kesenangan dan kepentingan Dunia.
Maka, Jika untuk perkara dunia saja kita manut-manut wae, ngikutin semua peraturan yang ada, All-out untuk menjadi yang terbaik di kantor/sekolah, adalah sebuah pertanyaan besar, mengapa kita Cuma mau “standar aja” untuk perkara akhirat ?

Mengapa kita banyak mengeluh untuk sekedar shalat saja ?
Mengapa selalu ada alasan untuk malu, untuk tidak melaksanakan syariat (peraturan) Allah Azza wa Jalla ?
Selalu ada alasan untuk mengenakan Hijab/Jilbab/Khimar..
Selalu ada alasan untuk datang ke masjid saat adzan terdengar di angkasa.
selalu ada alasan untuk absen dari membaca Qur’an

Jika anda selalu meng-update ilmu untuk keseharian anda, untuk kantor, untuk “masa depan” duniawi anda, lalu KAPAN ANDA MENG-UPDATE ILMU AKHIRAT ANDA ?

Nyatanya…
Selalu ada alasan untuk menomorduakan pelajaran Agama.
Selalu ada alasan untuk menunda membeli buku Ilmu Agama entah itu dari yang paling dasar hingga Sirah Nabawiyah, Ushul Fiqh,
Selalu ada alasan untuk bacaan Qur’an kita yang “ala kadarnya”.
Selalu ada alasan untuk Hafalan Qur’an kita yang berkutat di “Tri Qul”.
Selalu ada saja keluhan disaat anda membayar zakat.

Mengapa kita selalu MENGELUH untuk MASUK SURGA ?
DIMANAKAH GHIRAH—semangat--  UNTUK MENGGAPAI KEBAHAGIAAN ABADI ?

Nyatanya, kita lebih Takut “Dimarahin Bos” dari “Dimarahin Allah"

Kita lebih mengedepankan alasan untuk “masuk” ke seluk beluk urusan dunia, daripada memikirkan, bahwa, nantinya tindakan kita terhadap agama yang “standar” ini menjadi alasan Allah untuk tidak memasukkan kita ke Surga-Nya…


Q1 : “Yah kan malu, orang sekitar saya gak ada yang begitu sob”

Wahai sahabatku,
Jika anda harus malu,dan memang Pantas untuk merasa malu, seharusnya anda merasa MALU terhadap diri anda sendiri yang mengharapkan surga, tapi tidak mengerjakan amalan-amalan Ahli Surga.

Terlebih Lagi,
Seharusnya anda MALU, kepada siapa ? Kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam. Kenapa ?
Disaat Rasulullah berjuang menyebarkan Syiar Agama ini…
di saat beliau diusir dari kampung halaman tempat kelahirannya..
di saat seluruh kaumnya memboikot usaha dagangnya..
di saat seluruh kabilahnya mengejek dengan kata “Gila”, “Pendongeng dan Pengarang”, “Penyihir”, dan ejekan lainnya.
TAPI, TIDAK ADA satupun alasan terlisan dari Lisan Beliau Shalallahu’alaihi wasalam.

Sedangkan anda ?
Anda hanya mementingkan perkataan manusia yang tidak lebih benar dari Janji Allah Azza wa Jalla
Anda hanya mendengarkan ocehan orang yang tidak lebih mulia dari Hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam ?

MALULAH TERHADAP DIRI ANDA SENDIRI DISAAT KELAK KITA SEMUA BERSIMPUH DI HADAPAN ALLAH, ALASAN APALAGI YANG DAPAT ANDA LONTARKAN DIKALA ITU ?MALULAH KEPADA RASULULLAH YANG TELAH BERJUANG MENYAMPAIKAN RISALAH AGAMA ISLAM INI..

Q2 : “Yah itu kan jaman Rasul, Jaman dulu, Kita udah di “Jaman Now” ini sob. Gak bisa lah ngikutin yang dulu.

Jika “Jaman Rasul” yang anda masksud adalah..
Mereka yang Tidak pernah tertinggal shalatnya di belakang Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam.
Mereka yang mengorbankan Jiwa, Raga, Harta dan tetesan darahnya untuk Islam,

Jika adalah Mereka yang menangis ketika tertinggal SATU RAKAAT—bahkan tertinggal Takbir bersama Rasulullah.

Wahai sahabatku, jika saja mereka yang hidup berdampingan dengan Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam MASIH ada yang DIKATAKAN TIDAK MASUK SURGA…

Lalu, dengan kapasitas anda, anda “menggampangkan” diri untuk ‘booking’ Surga, percaya diri dengan amalan anda yang sekarang, dan menganggap remeh mereka yang berjuang di awal Masa perjuangan Rasulullah shallahu’alaihi wasalam..

Dan yang lebih penting lagi, mengatakan,
Bahwa Syariat ini HANYA untuk mereka yang hidup di Zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam..

Apakah anda juga siap menerima, Jika Surga HANYA UNTUK MEREKA YANG HIDUP DI ZAMAN RASULULLAH ?


Malu-lah wahai sahabatku..
Malu-lah dengan kualitas Iman dan Ibadah kita yang sangat jauh dari mereka yang dijanjikan Surga.

Takutlah
Jika ketika saatnya kita meninggalkan dunia ini, ternyata tidak ada yang bisa kita bawa melainkan rasa malu, merunduk meratapi nasib, disaat yang ratapan menjadi tak ada gunanya lagi, ingin sekali kembali beramal… tapi di hari itu, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali beramal.

Menangislah, Pantaskah Surga memanggil nama mu ?
Kembali lah wahai saudaraku…
Kembali-lah dengan segenap Iman layaknya mereka yang berperang di Perang Badr.
Kembali-lah dengan segenap Amalan seperti mereka yang tak pernah lepas menyertai sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.
Sebelum kita semua kembali kepada-Nya…

Tanyakan kembali,
“Jika aku harus mati sekarang, Layakkah aku masuk Surga dengan segenap Iman dan Amalku hari ini ?”
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".
(QS. Ali Imran [3] : 30-31)

-Muhamad Ikhsan Nurmansyah, dr.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home