Thursday, December 28, 2017

Orientasi & Malorientasi: Sekedar Narasi atau Sebatas Teori ?


Sejak kecil, kita senantiasa terpapar dengan pertanyaan, satu kalimat yang "sepele", seperti :

"Dek, kalau nanti udah gede, mau jadi apa ?"
atau lebih spesifiknya,
"Nak, nanti kalau sudah besar jadi dokter/Pengusaha/Insinyur/Arsitek/Guru/Pengacara (dan lain-lain) ya, buat ibu/ayah bangga"

Yaa begitulah pertanyaan dan pernyataan yang menjadi buah bibir orang tua kita sedari dulu, baik disadari atau tidak, ucapan ini memiliki arti yang cukup dalam, dan disadari ataupun tidak, perkataan yang "cuma satu kalimat" ini secara tidak langsung membuat diri kita termotivasi, terdorong untuk mencapai sesuatu yang selalu di'elu-elu'kan orang disekitar kita. dimulai pada titik inilah, kita mulai membentuk orientasi kita.

"Saya harus bisa !"
"Aku harus jadi dokter!"
"Gue Kudu Juara Umum !

Sebagian kita tidak menyatakan kalimat kutipan diatas secara langsung, tapi setidaknya, kalimat itu merepresentasikan apa yang sebenarnya terjadi di benak kita, secara tidak sadar membentuk orientasi kita. membentuk suatu penilaian dan tinjauan, untuk apa ? untuk memutuskan "What I Have to do to achieve my goal?"

pertanyaannya sekarang adalah, Apa sebenarnya "Goal" kita ? Apa tujuan kita sesungguhnya ?

Kita acapkali berpikir,
"Saya akan jadi Juara umum, supaya saya bisa dipanggil oleh announcer nanti sewaktu wisuda, Pasti ayah dan ibu saya bangga"
"Saya harus bisa jadi Dokter yang sukses, Orang tua saya akan bangga kalau nanti mereka di usia lanjutnya tidak harus bersusah payah menpertahankan kesehatannya"
"Saya harus bisa memiliki sekuritas finansial, sehingga sampai kapanpun, saya tidak perlu memikirkan keterbatasan dana"

mengapa kita bisa berpikiran demikian ? karena sejak dulu, orientasi kita--selangkah demi selangkah- sudah terkokohkan, terpatri jauh dalam diri ini, bahwa dunia adalah segalanya.

"Meng-Orientasi-kan Islam"
Keterbatasan kita dalam menentukan orientasi diri tidak lepas dari keterpaksaan kita dalam kehidupan sehari, sehingga kita lupa, bahwa dunia hanyalah "Short-term Goal", sedangkan kita terlupa akan "Long-term Goal", yaitu Akhirat. 

jika kita bangga dengan pencapaian kita;
"Orang tua saya pasti bangga kalau saya bisa dipanggil di hadapan seluruh peserta wisuda nanti"
"Saya akan bertemu dengan Pak Presiden, disaksikan seluruh Rakyat Indonesia"

maka, tidakkah kita merasa rendah hanya dengan mematok prestasi dunia ? Orientasi Dunia ?
ubahlah Orientasi kita sejak saat ini..

"Orang tua saya pasti bangga jika saya bisa menghadiahkan keduanya Mahkota di Surga. Maka saya akan menjadi Hafidz Quran"
"Orang tua saya pasti bangga ketika saya mempersembahkan keduanya Surga. Maka saya akan memperbanyak amal harian.
perbanyak dzikir, terdalam ilmu dan amalan yang diajarkan Rasulullah saw.

di penghujung hari, di detik-detik akhir dunia ini, seluruh dari kita akan dipanggil dan dikumpulkan,
"Dimanakah orang-orang Beriman ?"
Maka pastikanlah dirimu termasuk didalamnya,
pastikanlah engkau akan menyambut panggilan itu dengan dengan hunusan pedang, berkibarkan Panji Ad-Diinul Islam, seraya berkata, "Saya termasuk orang yang Beriman kepada Allah swt.",

jangan sampai engkau bertanya di hari itu,
"Mengapa aku tidak dipanggil ?"
"Mengapa saya tidak dapat menyebut panggilan ini ?"

maka bertanyalah pada dirimu,
Dimanakah engkau saat Allah swt memanggilmu 5 kali sehari dengan Adzan-nya ?
Dimanakah engkau saat Allah memerintahkan untuk membaca Kitabullah ?
Kemana engkau saat Allah swt. menunggu mu di tiap malam ?

Hadir ? Absen ? atau bahkan...Abstain ?
karena hanya ada dua pilihan dikala itu,
Sami'na Wa Atho'na atau Sami'na Wa Amshoina ?
Saya mendengar dan saya taat
atau
Saya mendengar dan saya lalai ?
tidak ada pilihan abstain, tidak ada golongan putih "golput".

Apakah engkau akan membela Thagut ?
ataukah
engkau akan berdiri disisi Mujahidin ?

apakah engkau akan bersama mereka yang berjalan menuju ujung dunia yang fana ?
ataukah
engkau akan membersamai mereka yang menemui Allah swt. fi Jannatun Firdaus ?

Orientasikan dirimu menuju Akhirat, pada Kitabullah (Al-Quranulkarim), karena tujuanmu akan membawamu kepada Kafilah (Rombongan) yang sesuai;

Serasikan Langkah, Selaraskan Tujuan
Semoga kita bertemu kembali di hari yang di janjikan dalam barisan yang sama.