Sebuah Catatan : Saya Bangga Jadi Anak Ibu dan Ayah, Anda ?
Sore itu, tepat pada hari Jumat, waktu menunjukkan pukul 15.21, waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh kami, yang notabene masih menimba ilmu di bawah atap berwarna merah marun di tahun ketiga ini. Seperti hari yang sudah-sudah, termakan oleh derasnya aliran waktu, bermodalkan baju koko dan celana putih ‘ala anak SMA indonesia pada umumnya, seluruh mata tertuju pada jarum jam. Tik....tok...tik...tok... TIINGGG!!.. Ya ! Akhirnya ! At Last ! dan semua gumaman pun pecah, AKHIRNYA ! Pulaaaanggg !!! suara yang senada terdengar dari segala sisi ruangan sekolah, bak seorang sutradara yang melihat sebuah narasi cerita yang disusun sedemikian rupa, hanya saja, kali ini “sutradara” nya berjumlah 500 siswa SMA yang dipayungi oleh sinar mentari sore, menarik setiap kaki untuk segera melangkah keluar kelas, membereskan seluruh buku yang berserakan diatas meja, dan lantas menuju keluar gerbang sekolah, mulai dari berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, nyari angkot, dan lain-lain.
Hingga akhirnya, tersisalah beberapa orang dari kami yang di pelataran masjid, terhias di depan pintu masuknya “Masjid Ibnu Sina SMAN 21 Jakarta Timur”, berwarna hijau terang dengan list berwarna hitam-keemasan. Tak lama setelah berkumpul beberapa orang dari kami yang masih “betah” di SMA tercinta ini, waktu Ashar pun tiba, kami menyamakan langkah, menuju tempat wudhu, dan salah seorang dari kamipun mengumandangkan adzan. Dipimpin oleh pembina Rohis kami tercinta.
Seusai shalat ashar, kami berpamitan kepada guru-guru yang bersama kami menggenapkan kewajiban di sore itu. Seperti biasa, pojokan masjid menjadi posisi favorit kami, di pinggir jendela, ditemani oleh angin sore sepoi-sepoi, menerpa tiap helai kulit yang lelah usai menuntut ilmu, menunggu jiwa-jiwa yang haus akan ukhuwah ini untuk kembali bertemu, bersama membahas hal yang tak terbahas dalam kurikulum sekolah. Akhirnya, mentoring kami pun dimulai, mentoring terakhir sebagai seorang siswa (bagi saya), sebelum meninggalkan jejak dari sekolah ini.
Suasana kali ini agaknya berbeda dengan yang telah lalu, terhias dengan sebuah pertanyaan yang terlontar oleh seorang diantara kami...
“ Kak, saya merasa sudah dewasa, dan saya ingin bersama dengan teman-teman saya, bagaimana dengan orang tua saya ? manakah yang harus saya dahulukan ? sedangkan, jika saya tidak berkumpul dengan teman-teman, bagaimana saya berkenalan dengan yang lain ?”
Akhirnya, dimulailah kesempatan untuk membahas pertanyaan...
Anda bertanya tentang prioritas, mari berbicara kebelakang, bagaimana prioritas orang tua-mu dahulu ? pernahkah mereka meminta dirimu membalas “prioritas” mereka ?
Esok hari, engkau akan menemui mereka yang berkata kepadamu, “Anak mami banget lo sob ! Sama ortu melulu ! gak gaul !”, “Payah lo, dikit-dikit nelpon orang tua”, “udah lah, ngumpul dulu, orang tua bisa ntar”, dan sekian banyak godaan yang akan menyapa dirimu, untuk apa ? Untuk apalagi kalau bukan untuk menjauhkan dirimu dari dua orang pemberian Allah swt. yang tak ternilai harganya ?
Ketika ada yang berkata kepadamu hal tersebut, jawablah, “Ya Saya mungkin tidak “gaul” layaknya kalian, saya mungkin tidak seperti kalian yang bangga, tidak menghubungi orang tua sekian lama, tapi setidaknya, saya tidak kehilangan “surga dunia” yang ada, yang tak tergantikan oleh apapun juga..
Orang tuamu adalah pahlawanmu...
Engkau boleh melupakan pelajaran, engkau boleh melupakan nama dan raut wajah kami yang bersamamu di sore hari ini, tapi ingatlah satu hal, Jangan pernah melupakan orang tuamu. Jangan engkau biarkan dua pasang mata terindah itu terlupa olehmu. Jika orang tuamu ridha akan jalan yang engkau tempuh sekarang, yakinlah, seluruh orang yang engkau temui akan ridha kepadamu, karena Allah swt. meridhai mu atas ridha orang tuamu, dan jika engkau kehilangan sesuatu atau seseorang karena prioritasmu akan orang tuamu, maka yakinlah, Allah swt. akan menggantikan apa-apa yang hilang tersebut dengan yang lebih baik dari sisi-Nya.
Jangan pernah takut engkau tidak mendapatkan relasi, kenalan dan teman-teman yang engkau harapkan, yang jumlahnya seperti teman-temanmu yang menomorduakan orang tuanya. Ingatlah, engkau tidak memerlukan teman yang banyak, engkau hanya memerlukan “Teman yang diridhai Allah swt.”. Karena, sebanyak apapun temanmu, tidak akan memberikan manfaat terhadap dirimu, kecuali mereka yang diridhai oleh Allah swt., melalui ridho orang tuamu.
Engkau boleh melupakan kami yang membersamaimu sekarang, tapi jangan pernah engkau lupakan orang tuamu. Ketika engkau terlupa akan kami, sedangkan, orangtuamu ridha akan dirimu, maka dengan izin-Nya, kita akan dipertemukan kembali, melalui satu jalan, atau jalan yang lain...
Ketika engkau telah berjalan jauh, jangan lupa untuk mundur ke belakang, temui mereka yang menunggumu di rumah yang menjadi saksi bisu masa kecilmu yang penuh canda-tawa bersama mereka...
Ketika engkau sudah meneropong jauh ke masa depanmu, jangan lupa untuk menghubungi mereka, mereka yang menunggumu di kursi tuanya, mungkin tak kuasa lagi meninggalkan kursinya..
Ketika engkau sudah mulai berumur, ingatlah umur orangtua mu, mungkin kulitnya tak lagi indah seperti dahulu, mungkin matanya tak lagi tajam meyakinkan, mungkin bicaranya tak lagi lancar seperti saat mereka mengajarkanmu berbicara dahulu...mungkin, mereka tak lama lagi disini...
Seberapapun umurmu, engkau masih tetap akan menjadi seorang “anak” di hadapan orang tuamu..
Seberapapun kepintaranmu, engkau dulu merupakan bocah yang tak tahu apapun...
Seberapapun sibuk dirimu, ingatlah, ada yang pernah engkau sibukkan dahulu kala, hingga detik-detik waktunya dihabiskan untuk mengurus dirimu...
Orang tuamu tidak pernah memintamu untuk menyisakan waktu untuk mereka...tapi sungguh, jika engkau tidak menyisakan waktumu untuk mereka, maka engkau sudah menyiakan ladang amal yang amat berharga, ladang amal yang lebih tinggi dari jihad, amal yang dapat merayu surga untuk merindu dirimu...
Orang tuamu tidak berharap akan foto-foto yang engkau unggah di media sosial, pun mereka tidak awam dengan segenap media sosial yang tak ayal seringnya engkau gunakan, tak akan pun mereka melihat foto yang engkau unggah itu...
Orang tuamu tak akan dapat engkau duakan oleh sebanyak apapun teman, sahabat, kenalan, rekan kerja, atau siapapun itu yang engkau kenal. Bayangkan, siapa yang telah mengayomi, menyayangi seorang bayi mungil nan tak berdaya hingga sekarang yang sudah tumbuh sedemikian rupa ? Sungguh, mereka telah mengenalmu dari sejak engkau terlahir di dunia yang keras ini, dan temanmu ? berapa lama engkau mengenal mereka ? 2 tahun ? 3 tahun ? sungguh tak dapat dibadingkan rasanya...
Mereka hanya memintamu mengingat keduanya dalam doamu, menghubungi mereka dalam sibukmu, dan mengunjungi mereka dalam hari-harimu... selalu sisihkan pulsa mu dikala jauh untuk menyapa keduanya di tiap pagi sebelum aktivitasmu, sisihkan waktumu untuk melihat raut wajah keduanya yang semakin termakan usia...mungkin...waktumu bersama mereka tak lama lagi....
Jangan sampai air mata hanya menjadi sesalmu ketika mereka telah tiada... karena pada saat itu, sungguh semuanya telah terlambat, sedang, tiada pengganti untuk keduanya...
Mereka yang ingat, maka akan diingat...
Jika ada seseorang yang harus selalu engkau ingat, maka itu adalah..
Orang tuamu...
“Ridho Allah ada pada Ridho Orang tua, dan Murka Allah, ada pada murka orang tua”(h.r. Muslim)
Selamat membanggakan orangtuamu...
Dan akhirnya, sore itu menjadi sore terakhir kami, berkumpul lengkap dibawah naungan senja yang kian menghitam. Akhirnya, perpisahan kami terwakili oleh gema takbir dan lantunan salam, salam kepada senja. Hari terakhirku memimpin jalannya lingkaran kecil, di tengah bumi yang kian luas.
-----Sebuah Catatan-----
