Selamat Jalan Pahlawanku....
Pagi ini, pagi dimana orang-orang ramai menyebut nya "Hari Pahlawan", tidak seterang tahun lalu, seolah mentari enggan memancarkan sinarnya.
Pagi ini, embun terasa tak sesejuk kemarin, suasana hiruk pikuk dunia, mobil yang lalu-lalang akan aktivitas dunia fana tak terindahkan olehku..
Yang kulihat hanyalah sanak saudaraku yang sedang sibuk mempersiapkan pelepasan orang yang ku cinta..Izinkan aku bercerita, mungkin sedikit cerita, goresan yang dapat ku ukir disini, semoga dapat terkenang selalu sampai kapanpun jua..
----------------------------------------------------
Hari ini, Minggu, Tanggal 9 November 2014
Tak ada yang berbeda, tak ada kejanggalan saat ku buka mataku di pagi hari. Layaknya rutinitas biasa, kuawali dengan Shalat 4 Rakaat, 2 rakaat sunnah, dan 2 rakaat wajib, tak lupa kurajut pagi ini dengan do'a, kepada yang kurindu dan yang kusayangi. Lalu kumulai membuka jendela, berharap ada terpaan angin sejuk, menyapa diri yang diberikan waktu lebih di dunia ini.
Pagiku selalu kuawali dengan olahraga ringan, mungkin bawaan sejak ku belajar beladiri dulu dan bekas-bekas peninggalan paskibraka dahulu kala...
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 tepat, tak tahan rasanya ingin kucicipi sarapan pagi, "ah, biasanya ada datok lagi sarapan, mungkin aku bisa menemaninya", gumamku dalam hati. tak menunggu sedetikpun, ku bergegas ke ruang makan, kuturuni tangga dari kamarku yang berada di lantai 2 rumah tua ini. Tak salah lagi, Kakek yang akrab kusapa Datok itu, sedang tenang duduk di kursi meja makan, kulihat piringnya telah bersih dengan bekas kuah merah, dan bungkus obat yang biasa dimakannya. Maklum, Datokku memang menyimpan penyakit jantung dalam usianya yang sudah memasuki kepala 7 itu.
"Makan tok !" sapaku berbasa-basi.
"Yo, makanlah, atok sudah selesai nah," ujarnya sambil menyaksikan tayangan berita di Televisi.
Ku ambil nasi secukupnya, dan ku duduk di samping kakek kesayangku itu, sambil makan, sambil pula ku lanjutkan perbincangan pagi itu..
"Sudah makan obat tok ?"
"Sudah. ini nah bungkusnyo tinggal, Isan hari ini pergi-pergi dak ?"
"Idak tok, Isan lusa mau ujian, mau belajar bae di rumah" ujarku lagi..
"Ohh iyola, bagus la itu, biar jadi dokter yang cakap" balasnya setengah bergurau
Ku hanya membalas dengan senyum..
"Datok dak pergi hari ini ?" tanyaku lagi
"Idak, datok disini lah, ini nah lagi nunggu tinju ni lamo nian, jadi lah pulo wong ini berita terus gawenyo, dak tau apo datok lagi nunggu tinju" Ujarnya bergurau, kamipun tertawa bersama, memang ada siaran tinju pukul 9 nanti di channel itu.
"Isan naik dulu ya tok ke kamar, gek Isan turun lagi nonton tinju tu bareng datok lah" kuberucap mengisi pagi itu
"Ohh yo yo, datok disinilah" jawab Datokku yang bernama lengkap Aidil Fitrisyah itu.
Tak terasa, Jarum Jam pun berputar menunjukkan angka 8, tiba-tiba kudengar suara telepon genggam ku berdering, "Ah mungkin dari ibuku" gumamku, memang, jika aku tidak menelpon ibuku pagi hari, biasanya ibuku lah yang akan menelpon.
Tapi dugaanku salah, Bukan tulisan "Mama" di layar telepon itu yang kudapati, melainkan nama "Datok" yang terpampang disitu. aku pun heran, karena Datokku tak pernah menelpon ku jika dia ada di rumah, biasanya dia memanggil ku dari bawah dengan suaranya yang keras walau terisi serak karena usia. Biasanyapun hanya nenekku yang menelpon ke Teleponku, karena susah untuk berjalan.
Dengan perasaan penasaran ku jawab panggilan masuk itu..
"Assalamu'alaikum, ada apa tok ?" jawabku menyapa datokku yang merupakan kelahiran Muko-Muko itu, sebuah daerah di Bengkulu.
"Isan....Coba Ke kamar dulu.... Dada Datok Sakit..." Ku dengar suara datokku yang tak lagi sigap itu, seakan melirih menahan sakit.
Tanpa mengulur waktu, ku langsung melesat ke kamar tempat Datokku berada. Alangkah teriris hati ini ketika mendapati Datokku, terduduk lemah di atas kasur, kulihat wajahnya pucat, matanya sayup.
"Tok, Datok kenapa ?" ucapku cemas
"Dada datok sakit san... coba bawa dulu datok ke Rumah Sakit..." Ucap Datokku lemah. Selama ini Datokku merupakan orang yang gagah, di usianya yang sudah tak muda lagi, Ia masih ditemani segudang aktivitas, dari mulai ke sawah, memimpin rapat, sampai dinas ke pelosok daerah pun dijelajahinya.
"Ya tok." Jawabku cepat bercampur cemas.
Ku beranjak dan mengambil obat Sub-Lingual, Cendocard tulisannya, memang untuk kondisi darurat, dan kuberikan kepada Datokku itu, dan membantunya meletakkan dibawah lidah.
"Jangan ditelan ya tok, di biarke bae di bawah lidah" ujarku
Ia hanya menganggukkan kepalanya..
Ku bersegera menghubungi Tanteku, Anak tertua dari Datokku, yang rumahnya memang tak jauh dari situ. Singkat cerita, ku ceritakan kondisi yang ada, dan tanteku segera menuju ke rumah tua ini, yang notabene berada di pinggir jalan,
Sesampainya tante yang akrab ku panggil "Bunda Ella" itu, langsung ku bawa ke Rumah Sakit Siloam yang berada tak jauh dari rumah, bersama tante ku itu dan suaminya.
Sesampainya di Rumah Sakit, kami langsung menuju ke bagian Gawat Darurat, Datokku yang lemah itu kudorong dengan kursi roda menuju Bed tersedia.
Lalu beberapa perawat menghampiri dan mempersiapkan Datokku itu,
seorang perawat bertanya "Bapak apa keluhannya apa mas ?"
"Bapak ada sakit Jantung, sudah pernah dipasang Ring 9 buah, tadi barusan mengeluh sakit dada" jawabku cepat.
"Ohiya, baik, mungkin perwakilan dari keluarganya bisa mengisi formulir di meja depan, mas ?"
Ku memberi isyarat ke tanteku, dan tanteku langsung menuju ke tempat yang dimaksud.
Lalu, ada seorang dokter perempuan menghampiriku, "Sakit apa mas Bapaknya ?"
Aku menjawab sama dengan yang kukatakan kepada perawat itu..
lalu, dokter itu bertanya beberapa hal kepada Datokku, "Dimana pak sakitnya ?", "Sejak Kapan Sakitnya?", "Sakitnya menjalar apa tidak ?" ya, pertanyaan yang sudah awam kudengar di Fakultas Kedokteran tempatku menimba ilmu. Aku pun menjawab pertanyan-pertanyaan itu, Datokku berbaring lemah disampingku.
Setelahnya, dokter tersebut memberikan isyarat agar memasang EKG, "Tolong dilepas dulu ya pak jam tangannya, mau kita pasang alat dulu" ujar seorang perawat.
Aku yang menemani di samping Ayah dari Ibuku, segera sigap melepaskan jam tangannya.
"Isan...simpan dulu ya jam tangan.." suara Datokku parau
"Iya tok" jawab cucu laki-lakinya ini.
Sesaat setelah terpasang, kulihat hasil EKG nya itu, "hmm, Lead I, Lead II,...AvF.... semua normal" Gumamku dalam hati.. Benar saja, tak ada hasil patologis dari hasil rekam aktivitas listrik jantung itu.
Kusadari, baru kemarin Datokku kontrol ke dokter di Jakarta, dan dinyatakan kondisi Jantungnya masih terkontrol baik.
Kemudian Dokter itupun bertanya kepadaku "Ini mau dengan dokter siapa ya mas ?"
"Ada dokter siapa saja disini ?"
Kemudian dokter jaga tersebut memberikan daftar dokter spesialis Jantung Paru dan Penyakit Dalam kepadaku, dengan beberapa diantaranya merupakan guruku di Fakultas Kedokteran.
"Ali Ghani bae !" Ujar kakeku yang terbaring di bed itu.
"Prof. Ali Ghani tok ? Dak yang lain ?" tanyaku, karena mengingat itu adalah hari minggu, mungkin beliau sedang ada urusan.
"Dak usah, dio bae, dio kenal dengan dokter Munawar, biar dio bae yang hubungi !"
Ujar Datokku dengan suara lantang.
"Alhamdulillah" kuucap dalam hatiku, "setidaknya kakekku masih bisa bersuara lantang lagi.." dalam hatiku berkata. Dokter Munawar merupakan dokter yang didatangi Datokku dari awal terkena serangan jantung pada tahun 2007.
"Yasudah dok, beliau saja."ujarku
"Ada Asuransi Mas ?" tanya dokter jaga itu lagi
"Wah, kurang tahu saya dok"
"Ada.. Jamposmas !" Datokku menjawab lagi
"Panggil Bunda Ella mu, biar dio yang urus"
Aku segera menemui tante ku itu, dan segera mengurus administrasinya.
Sesekali ku membantu permintaan Datokku itu untuk mengatur posisi ranjangnya dan meninggikan bagian kepala nya. EKG yang normal, Indeks Saturasi Oksigen yang baik.. kurang apalagi ? Mungkin sebentar lagi kakekku akan segera keluar dari ruangan ini.. ucapku.
Kemudian Datokku meminta untuk dapat ke kamar mandi,
"San, Datok nak ke kamar mandi dulu, Nak BAB, coba kau copot dulu ini.." ujar Datokku sambil melirik ke selang infus dan kabel EKG.
ku panggil perawat yang ada.
"Pak, bapak BAB nya disini aja ya, saya bawakan Pispot atau pampers" ujar perawat itu
Aku pun membujuk Kakekku itu yang bersikukuh ingin ke kamar mandi, akhirnya Ia setuju.
Tapi, sebelum perawat tersebut memasangkan pampers, kakekku terlihat mengedan dan kehilangan kesadaran..
Spontan kupanggil, "Tok ! Tok ! Bangun Tok !" rasa cemas dan gelisah bercampur jadi satu.
Saat kulihat EKG nya aku tersentak... pada awalnya terlihat jelas, tapi ku tatap lagi beberapa saat..."Tidak mungkin" dalam hati ku berteriak...
"Bagaimana bisa?" aku melihat,, Asystole, begitu aku dan sejawatku menyebutnya...
Gelombang itu muncul begitu saja di layar EKG, di sela-sela irama normal.. diselingi gelobang ST- Elevasi... kemudian Gelombang yang hampir normal, begitu seterusnya, tidak menentu
saturasi oksigennya pun menurun. dan akupun diminta untuk menandatangani informed consent untuk melakukan Endotracheal Intubation, atau biasa disebut intubasi jika sewaktu waktu memang sangat mendesak diperlukan.
Walaupun secara teori ku ingat benar maknanya, sesuatu yang sangat tidak ingin kulihat.. namun hati kecil ku tetap berkata "Tidak, Tidak sekarang ! Bangun Tok !"
"Tok, Minggu depan Dek Fahmi Ulang tahun tok ! Gimana kalau datok dak ado..." ujarku spontan..
aku tak tahu mengapa aku mengucap kata "Gimana kalau datok dak ado" itu...
seakan hati ku memberi Isyarat... Isyarat dari Sang Khalik...
Heart Rate yang semula tertulis dari rentang 50-56, sekarang hanya tersisa 30,31,32...
Kemudian dokter jaga dan para perawat yang daritadi mengelilingi Datokku, mulai sibuk, melakukan pertolongan pertama. Refleks Pupil masih ada, menandakan masih ada kinerja otak..
"Kasih Epi 1, SA 1 !" Ujar dokter jaga itu sambil melakukan Resusitasi. beberapa kali dokter tersebut memerintahkan untuk menambah dosis Epinephrine itu, tapi yang kulihat hanyalah gelombang normal dan peningkatan Heart Rate sejenak.... kemudian kembali lagi..
Di satu sisi, ku berbisik, "Aku harus kuat, jika memang Sang Maha Pemilik telah rindu kepada Datokku, maka biarlah Ia Menemui-Nya, aku tak boleh sedih, aku harus menenangkan Ibuku, pasti dia sangat sedih.." tapi di satu sisi, ku tak bisa melepasnya,
"Katamu, kau akan menghadiri Wisuda Dokter ku.. Bangun Tok! 3 tahun lagi saja ! setelah itu, setelah itu..." Teriakku dalam hati...ku tak bisa menyelesaikan kalimat itu..
Tak kusadari Air Mata sudah mengaliri wajahku,
Kusempatkan Mentalqin di kuping Datok Kesayangku itu, "Laa Ilaaha Illa Allah.... Muhammad Dar Rasulullah"... begitulah kuucapkan kalimat suci itu... dengan setengah hati, hati yang belum bisa merelakannya...
tapi, Datokku hanya bisa terdiam, sesekali seperti ingin berbicara......
Hingga... tibalah saat penentuan, sehingga kami diminta menjauh dari sekitar orang tua yang tersayang,,, tirai ditutup.. aku yang masih ingin melihat kakekku, mencari celah diantara tirai itu, dan kudapati celah, terlihat layar EKG itu... 50,52, "Ya, Lanjutkan !" Dalam hatiku, dengan secercah kebahagiaan. Sesekali dokter di dalam ruangan itu merapatkan kembali tirai itu, tapi ku masih mencari celah...
Hingga tiba saat nya, salah seorang dokter keluar dari tirai itu..
"Keluarga nya mana ?"
Kamipun mendekat... dan dikabarkanlah kabar yang tak pernah sedetikpun kami harap....
benar saja, memang tak ada yang bisa menghindar dari Janji Allah yang pasti datang...
Kulihat Layar EKG untuk terakhir kalinya... "15".. angka besar itu terpapar disana,, tanpa gelombang tinggi menjulang, hanya 1 loncatan kecil...hanya itu saja....
Ku tak bisa menahan diriku lagi... DUM ! bunyi dinding semi triplek, sekat antara ruang kakeku dan ruang sebelah. Tak kusadari, Kepalan tanganku mengahantam dinding itu....
dan air mata ini tak bisa kutahan lagi.....
Dan kini,
Ku Takkan lagi bisa menyaksikan Senyum Ikhlasnya di pagi hari
Ku takkan mendapati suara Lantangnya saat kembali dari bekerja
Tak ada lagi temanku sarapan di pagi hari... menemaniku mengawali hari..
Tak ada lagi yang sibuk mondar-mandir mengunjungi rumah di Jakarta...
Sepi.... Hanya itu yang kau tinggalkan............
Engkau tidak tahu rasanya sahabat,,
Menjadi orang yang menemani seorang yang sangat kau cinta, kau sayang,,
Hingga Menyaksikan nya... menghembuskan helai nafas yang terakhir...
Menemani di sampingnya........... seolah memberi salam penutup,
Kepergian nya dari dunia ini....
Selamanya..................................
-------------------------------------------------------------------------------
Palembang,
3 Jam lewat dari Tanggal 11 November 2014..
3 Jam lewat dari Tanggal 11 November 2014..
Menghitung Jam menuju Ujian CBT Blok 20: Kesehatan Jiwa,
Prognosis ? Dubia Ad.... ah sudahlah...
Ku tak tahu lagi akan ujian ini, mungkin akan kulupakan sesaat, asalkan kubisa mendo'akan datok kesayanganku itu...
-------------------------------------------------------------------------------
Ditulis dengan tetesan air mata, dari berbagai curahan hati yang tak bisa terucap
Dari Cucu Laki-lakimu
Semoga Allah swt. Menjagamu di Alam sana..
Selamat Malam Tok...
Mimpi Indah.....
"Waktu bisa kau ulang,, ya bisa,, Dengan mengingat masa-masa indah bersama orang yang kau sayangi.."
Sayangilah Orang Tua mu, Karena engkau tidak tahu kapan engkau akan berpisah dengannyaJika pepatah mengatakan "Kita tak akan bisa mengetahui seberapa berharganya seesorang, hingga Ia Meninggalkan Kita"
Maka aku bilang, PATAHKANLAH Pepatah itu ! dan sayangilah mereka sampai akhir hayatnya,, hingga tidak ada rasa penyesalanmu di akhir perjumpaan nanti...
