Monday, October 27, 2014

Ini Zamanku..

Ini Zamanku..
Dimana jabatan diperebutkan
dan amanah terasingkan
Mata terbelalak akan harta dunia
Sedang hati terkubur dalam pandora

Ini Zamanku
Dimana Dunia didamba laksana permata
Dan agama bagai memegang api membara
Seakan menjadi hal tabu, kitab-kitab bak tumpukan debu
alangkah na'as, gumamku

Ini Zamanku
Dimana janji terurai rapih dalam jemari
Disaat sakti melati tertutup, tercemari
Tak ada harap tuk kembali
Karna hati terselimuti ambisi

Ini Zamanku
Disaat mati menjadi saksi
dan hidup tak jua memiliki arti
Bagai sandiwara, terlupa, sia-sia tanpa arti
Penyesalan menghiasi insan suci

Ini Zamanku
Saat bintang bercerita dalam relung cahaya
Bulan mendengar di khidmatnya malam
Namun tak satupun jiwa terbangun, terlelap dalam guratan mimpi
Tuk menyaksikan elonkya sunyi, penghias sepi..

--Muhamad Ikhsan Nurmansyah

Labels:

Sunday, October 26, 2014

Dimana Rumahmu, Nak ?

Hari ini, Sabtu 25 Oktober 2014, seperti biasa, kuawali langkah kakiku dengan segudang aktivitas yang menunggu di depan mata, tak kurang sedetikpun, dan tak lebih se-inci-pun.
Tepat saat matahari tengah menyinari bumi yang mulai menua ini, kudapati sebuah chat dari seorang yang sangat kukenal, kukenal dari hari kelahirannya. Seorang hawa ke-2 yang kukenal setelah ibuku.  Tepat setelah acara seminar yang kuhadiri selesai, ku mulai membuka sebuah chat yang terdiri dari 2 bait tersebut.

dan kubaca :
"Nah baca nah kak", begitulah isi pesan pertama yang kubaca, terbesit dalam hati, sekiranya pesan ini hanyalah untuk hiburan semata, sebagaimana yang sudah sudah...
setelahnya, kubaca isi pesan itu, dan yang kudapati mungkin bukan seperti yang kukira...


beginilah isinya....

-------------

Hanya utk renungan semata :")

"Di mana Rumahmu Nak?"

Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? 

Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu. Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.Anakku, kita memang berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. 

Tapi kini dimanakah rumahmu nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. 

Padahal, andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu. 

Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak? 

Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak? 

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku.

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat? Ah, waktumu terlalu mahal nak .Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..

=Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.=

*Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridhaNya…

-------------


Ku Termenung sejenak...
Dan... disaat inilah kumerasa sangat bodoh...
Aku terlalu bodoh untuk mengecewakan mereka yang menunggu kehadiranku..
Aku terlalu dungu untuk meminta lebih, sedangkan ia hanya meminta ku hadir di samping nya
Aku merasa buta, tak bisa melihat kerinduan yang tersimpan dalam pancaran matanya...
Dan segudang penyesalan yang terlintas hingga beberapa saat..... 
bahkan saatku menulis tulisan ini...



Jika Air Matamu mengalir setelah membaca ini, tenang lah sahabat.
Sesungguhnya engkau tidak sendirian menitikkannya....

Labels:

Tuesday, October 21, 2014

Sudah Siapkah Kita Ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

---Oleh : Rahmat Idris---

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

"Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?" tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, "Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya." Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

"Oh...lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?" tanya ayahnya kembali.

"Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga."

"Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang," ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

"Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?" tanya sang ayah.

"Ini kami, Yah. Anakmu." jawab anak-anak.

"Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu."

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

"Pulanglah kapan engkau tidak sibuk."

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, "Saya sibuk...saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini." Lalu berharap sang ayah berkata, "Baiklah, ayah mengerti."

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul 'Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, "Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?"

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga. [Rahmat Idris]

Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua.
Semoga bermanfaat dan Salam Ukhuwah :)


--Terima Kasih kepada  Mentor dan Saudaraku, Akhi Abdul Rachman Hasan atas pengingat dan sharing nya :)



Labels:

Sunday, October 19, 2014

Darah Juang Kami, Mengapa Aku Disini, Mengapa Mereka Disana, Renungan Malam dari Seorang Hamba..

Bismillahirrahmanirrahim

Kadang aku termenung, mengapa aku harus dilahirkan disini, sedangkan ada tanah di ujung dunia sana, yang menyediakan "jalan pintas" untuk bertemu dengan Maha Rindu, Jalan yang ditempuh oleh para mujahid terdahulu, yang mereka dapat mengawali langkah dengan "Allahu Akbar!" dan mengakhirinya dengan "Laa ilaa ha ilallah", senyumnya merupakan senyum terindah, matanya terpejam dengan sebaik-baiknya ikhlas, seraya berkata "Akhirnya aku memenuhi Hak ku ya rabb, dan akhirnya aku dapat bertemu dengan-Mu".

Dimana lagi kalau bukan di bumi Al-Aqsha, Tempat kelahiran pejuang-pejuang tangguh, yang tak lekang di terkurung waktu, yang tak hilang terasingi oleh dunia nan gelap. Mereka yang di hatinya tercetak lafazh "Laa ilaa ha illallah", tertanam semangat Fii Sabilillah, dari tangan mereka Terhunus pedang tertajam, dari lisan mereka terucap lisan tertangguh, dari mata mereka terpancar cahaya keyakinan yang terang benderang, layaknya singa yang siap menerjang mangsa, dalam tegap hati berkata, "Hadapilah aku ! sungguh jiwaku berada di Tangan Allah, dan hanya kepada Allah lah aku akan memenuhi hak ku !"

Wahai Saudaraku,
Disaat aku masih disini masih dihadapkan pada permasalahan "Benar atau Salah", dirimu di ujung khatulistiwa sana selalu dihadapkan dengan pertanyaan "Merdeka atau Syahid".
Disaat kami disini terbuai dengan lagu-lagu tak berisi, tak berarti, bak tong kosong yang tak berharga, kalian sedang menghafal dan melantunkan ayat-ayat Kitabullah nan syahdu
Disaat kami disini mencapai angka 30 dalam menghafal lirik lagu yang tidak dibawa mati, kalian bahkan telah hafal Al-Qur'anul Karim, mulai dari Ummul Kitab, Al-Fatihah, hingga surah An-Naas, hingga tiap huruf, sukun, dan tajwid pun telah mengakar di Hati kalian...
Disaat kami disini disibukkan dengan politik yang memecahbelah ummat, kalian memiliki Satu alasan untuk berjuang, dengan lantang terucap dari lisanmu,  "Disinilah aku dilahirkan, dan disinilah Islam dilahirkan, Maka tidak akan ada seorangpun yang akan mengalahkan Islam, sebelum mengalahkanku",

Bersatu di bawah satu Khilafah, terpacu oleh satu api semangat, dan tertancap oleh satu panji berlafadzkan "Laa Ilaaha ilallah"


Betapa Hina nya kami di mata kalian..
Betapa rapuhnya Iman kami jika disandingkan dengan mu wahai saudaraku
Betapa hancurnya kami, jika saja Allah menghendaki, mungkin hanya kalianlah yang layak untuk tetap menegakkan panji Islam..
Dimanakah kami akan menunggumu ? jika saja bukan karena kasih dan sayang Allah, niscaya kami sudah tergantikan oleh ummat yang lain..
Dimanakah kami akan berpulang ? layakkah kami bersanding surga bersama mu wahai Amirullah ?
Sedang tergores luka sedikitpun belum kami cicipi, engkau sudah bermandikan peluru, kucuran darah sudah menjadi izzah mu..


Akankah kami mewarisi semangat juangmu wahai Pejuang ?

Namun akhirnya kusadari, tiada lahan di bumi ini selain bernamakan "Lahan Perjuangan"
Mungkin inilah perjuangan ku, perjuangan kami, Tugas yang diberikan oleh Sang Khalik kepada kami disini..
Untuk memperjuangkan Haq yang mulai memudar,
Untuk mengingatkan kepada yang lupa
Untuk Menegakkan Panji yang hampir terjatuh
Untuk meluruskan kebathilan yang mulai mendarah daging
Untuk esok kami pertanggungjawabkan kepada Yang Maha Kuasa,
Inilah Darah Juang Kami..


Disini kami berjuang,
Disini kami Mati,
Dan disinilah Islam akan Bangkit...

Tertanda,
Saudara yang merindukan pertemuan denganmu,

Labels:

Saturday, October 18, 2014

Dakwah, Bukan Untuk yang Memilki Gelar, Tapi Mereka yang Memiliki Hati..

Bismillahirrahmanirrahim

Pernahkah anda berbicara pada orang lain ?
Pernahkah anda berbuat sesuatu dan dilihat oleh orang lain ?
Pernahkah anda mengajak seseorang ke suatu tempat yang anda inginkan ?

Tentu jawaban dari pertanyaan diatas pasti "Ya, pernah". Namun timbul pertanyaan lagi dari ketiga pertanyaan tersebut,
Pembicaraan  seperti apa yang anda lisankan dengan orang lain ?
Perbuatan seperti apa yang anda pertontonkan ke orang lain ?
Tempat seperti apa yang menjadi tujuan anda ?


Sekarang saya izin sharing beberapa hal tentang dakwah :)

1. Dakwah bukan hanya untuk mereka yang bergelar Ustadz, Kiai, Syekh, dan lain-lain.
Mari simak potongan arti dari Surah Ali-Imran : 104 berikut ini sob :

"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung"
(Q.S. Ali Imran : 104)

dari ayat tersebut bisa kita lihat, bahwa Allah pun menyuruh kita untuk menebarkan kebaikan di muka bumi ini, siapapun kita, apapun pekerjaan kita, berapapun umur kita, apapun pendidikan kita, bukanlah suatu alasan untuk tidak berdakwah, bukan suatu penghalang untuk menebarkan kebaikan di muka bumi ini sob ! :)
kan gak ada toh yang hadits atau ayat Al-Qur'an yang isinya khusus, kayak "Wahai Ustadz-ustadz" atau "Wahai Kiai-kiai" ? :)
Satu kata darimu, dapat mengubah hidup seseorang selama-lamanya sob !

2. Jangan Minder sob !
"Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu.  Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal."
(Q.S. Ali-Imran 122)

Kebanyakan orang muslim takut berdakwah karena alasan-alasan klasik, contohnya saja "Ilmu saya belum seberapa, nantilah tunggu saya belajar agama lebih dalam lagi" atau "kan sudah ada ustadz yang ilmunya lebih mantep, saya mah gak ada apa-apa nya, udah biar ustadz aja lah"

Yang namanya ilmu dicari sob ! yang namanya pegalaman ya harus mengalami !
Kalau kita terus mengeluh dan beralasan, kapan mau sampai ke tujuan ? :)
Ustad dan mereka yang sudah maknyos gaya bicara dan ilmunya, pasti dulu nya mulai dari nol juga,, iya apa iyaa  ? :D

Belum menguasai hadits ? Belum baca tafsir Qur'an ? belum sempat mendalami ilmu fiqih ?
No Problemoo broo !

Kita bisa memulai dengan hal-hal yang sederhana, contohnya, mengajak shalat tepat waktu, mengingatkan shalat dhuha, dan yang paling gampang ? Mengahadiahkan senyum kepada sesama dimanapun dan kapanpun kita berada :)
Nantinya, kita akan menjadi "haus" akan ilmu agama dengan sendirinya, Insya Allah :)

Karena Hal-hal besar esok, dimulai dari hal-hal kecil hari ini bro !


3. Hidayah datang dari Allah, tapi kita bisa berikhtiar bro ! 

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu ? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal"
(Q.S. Ali-Imran : 160)

Memang kita sebagai manusia, makhluk yang serba terbatas, tidak bisa memastikan apakah orang-orang yang kita dekati, kita ingatkan, dengan lembut, dengan tata krama yang indah, akan berpindah haluan menuju jalan yang lebih baik atau tidak.. bahkan Rasulullah saw. pun tidak bisa memberikan hidayah kepada paman beliau, Abu Thalib, orang yang sangat berjasa dalam hidup beliau..

Tapi, apakah beliau berhenti berdakwah karena hal itu ? Tentu tidak sob !
begitu juga kita, kita masih bisa berusaha, semoga dengan usaha kita dapat membukakan pintu hidayah kepada orang-orang yang kita sayangi :)

Abu Sa'id Al-Khudri ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu, dan jika kamu tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati. Sesungguhnya itulah selemah-lemahnya Iman.
(h,r, Muslim)


4. Sebarkanlah kebaikan walaupun hanya sebesar biji sawi 
"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan."
(Q.S. Al-Anbiya : 47)

Nah ! Itu dia sob Alasan kenapa anda disini, sudah membaca tulisan ini sampai bagian bawah, ya, bagian ini..
bahwa sesungguhnya seluruh amalan kita tidak akan ada yang sia-sia, dan semua akan dibalas pada hari dimana tidak ada kekurangan sedikitpun, dan usaha kita akan indah pada waktunya :)


" Karena Dakwah itu Indah, dan Dakwah itu adalah KITA ! "
Karena Dakwah gak harus di Mesjid, Dakwah gak harus lewat Ceramah, Dakwah gak harus di organisasi, dan Dakwah gak terbatas oleh apapun juga :) 
Bahkan senyummu kepada saudaramu adalah dakwah :)

Semoga melalui tulisan ini, dapat membakar api semangat yang selama ini padam dalam hatimu
Semoga melalui tulisan ini, dapat menjadikan kita Saudara Seperjuangan dalam Dakwah
Dan Semoga kita dipertemukan lagi di perlintasan takdir selanjutnya, wahai Mujahid !

Selamat menempuh Jalan Dakwah Sahabatku !
Salam Ukhuwah !

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
(Q.S. Al-Ankabut : 69)

"Tidak ada kebaikan bagi mereka yang tidak memberi nasihat, dan tidak ada kebaikan bagi mereka yang membenci orang yang memberikan nasihat"
(Umar bin Khattab ra.) 


Jika Islam kita ibaratkan sebagai Jantung yang memompa Kedamaian dan Kelembutan. 
Maka Dakwah adalah ibarat Haemoglobin yang mengikat kebaikan untuk diberikan kepada sesama dan membuang kemunkaran keluar dari peredaran kehidupan. 
Maka, kita tidak akan bisa hidup tanpa dakwah, Karena Islam dan dakwah adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.. 
-- Salam, Muhamad Ikhsan Nurmansyah --

Labels: ,

Friday, October 17, 2014

Jabatan atau Amanah ? Anugrah atau Ujian ?

Bismillahirrahmanirrahim
Tulisan ini kudedikasikan untuk seluruh Saudara Seperjuanganku, kalian yang memikul amanah


"Sungguh menjadi Seorang Pemimpin itu laksana meletakkan kakimu, kaki kananmu di Surga, dan kaki kirimu di Neraka, maka berhati-hatilah" 

Sadarkah kalian sahabat,
Amanah bukan sekedar kata.
Amanah bukan kebanggan semata
Amanah tak berakhir di Dunia

Lalu bagaimana dengan kata jabatan ? acap kali kita mendengar "jabatan", tapi apakah engkau tahu arti sesungguhnya dari mengemban jabatan tersebut sahabat ? apakah dengan engkau diberikan ataupun mendapatkan jabatan, engkau laksana elang yang terbang tinggi yang dapat mendapatkan apapun kehendakmu ? Apakah ketika engkau mendapatkan gelar dari jabatan tersebut, membuatmu bagai terbang di atas awan, dapat melintas atas segala rintangan ?
Apakah dengan jabatan, engkau dapat lolos dari Hari Pembalasan wahai Saudaraku ?

Sungguh ketir hati ini ketika harus menerima amanah ini, bagaimana tidak, seorang dengan gelar Tabi'in, seorang yang menyaksikan hadirnya Rasulullah saw. , sang Uswatun Hasanah di depan kedua bola matanya, seorang yang dijanjikan oleh Allah swt. sebagai sebaik-baiknya Ummat hingga akhir zaman, merekapun tak kunjung resah ketika dititipkan amanah sebagai pemimpin Ummat, menjadi seorang yang begitu dipatuhi, menjadi seorang suri tauladan yang amat diperhatikan oleh tiap bola mata di kala itu.

Takut, Takut apakah nantinya dapat ku pertanggungjawabkan amanah ini kelak ?
Takut, Takut ketika engkau ditanyakan tentang apa yang telah engkau lakukan dengan amanah ini, karena sang penanya bukanlah manusia yang memiliki segudang kekhilafan, tapi, Ia adalah Rabb, Dzat yang maha Adil, Dzat yang maha sempurna..
Takut, ketika terdapat 1 keluhan saja, 1 pemikiran dalam hati tak puas, 1 keluh kesah yang tak terjawab, saat itulah api neraka siap menerkam bak halilintar..

akankah ku selamat dari hari dimana tak ada sebiji sawipun lewat dari pengawasan..
akankah ku berhasil melewati hari penimbangan, dimana seluruh amanah akan diminta pertanggungjawaban..
akankah... akankah... ku bisa bertemu dengan Sang Khalik dengan amanah ini ?...

Bagaimana dengan senyumku ? apakah salah jika aku tersenyum disaat amanah tak kunjung terselesaikan..
Bagaimana dengan canda dan tawaku ? apakah itu tepat ? disaat gunung, langit, dan matahari menolak amanah, sedangkan kita dengan congkak nya menerima amanah ini.. seperti berbangga, disaat yang lain menangis..
Bagaimana dengan waktuku ? layakkah waktuku kuhabiskan untuk diriku sendiri... sudahkah kulakukan kemampuan terbaikku untuk mu wahai sahabat yang mempercayakan amanah ini ?
Bagaimana dengan tidurku ? layakkah aku tidur disaat ada sebongkah batu bernama "amanah" membebani pundakku ?
Bagaimana... pertanggungjawabanku kelak ?...... akankah Ia, Yang Maha Adil, menerima ku di sisi-Nya ?


Ingin rasanya kuputar ulang waktu, menanggalkan kepercayaan yang telah diberikan kepadaku..
Ingin rasanya kuberlari, melintasi padang pasir, menyebarangi lautan, mencari tempat yang membuatku tak perlu mengingat ini semua...
sungguh... sungguh... ini terlalu berat..
Jikalau engkau ada disampingku saat ini, kuingin kau tahu, tak sedetik pun aku lewatkan tanpa mengingat hari pertanggungjawaban..
Jikalau engkau mendengarku, kuingin kau dengar, sebongkah penyesalan, penyesalan yang tak kunjung habis, menyesalkan perbuatanku yang mungkin,, tidak memenuhi harapan, harapan mereka yang memberikan amanah ini pada seorang yang mereka anggap mampu..


Kau mungkin melihatku tertawa, melihatku tersenyum, melihatku nyaman atas semua ini,
sekali-kali tidak saudaraku..

Karena kadang,
Mereka yang tersenyum terlebar, memiliki penyesalan terdalam
Mereka yang tertawa paling kencang meyimpan sejuta kesedihan
Mereka yang terlihat nyaman, menyembunyikan ketakutan terbesar



Semoga kita dapat bertemu lagi
di hari dimana tidak ada kesalahan,
dimana seluruh hal terkecil dipertanggungjawabkan,
dimana setiap makhluk menerima balasan atas perbuatannya
semoga kita bertemu dengan wajah berseri, senyum yang ikhlas, dan tangisan bahagia..
di Taman terindah, Fii Jannatul 'Adn

Semoga engkau selamat dihari ini...Wahai saudara seperjuanganku...

"Sesungguhnya, kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan untuk memikul amanah itu. Mereka khawatir akan mengkhinatinya dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan amat bodoh."
(Q.S. Al-Ahzab : 72)

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (Ar-Ra'du 13:35)


Labels:

Thursday, October 16, 2014

Antara Ilmu. Usaha, dan Kegagalan






Bismillahirrahmanirrahiim

Sahabatku yang InsyaAllah tetap dalam lindungan Allah swt dan tetap istiqomah dalam mempertahankan Islam di hati nya, Allah sebagai rabbnya, Nabi Muhammad saw. sebagai uswatun hasanah nya dan Al-Qur'an & Hadits sebagai pedomannya.

Dunia...
Dunia ini hanyalah pemberhentian sementara kita sebelum kita melanjutkan perjalanan menemui Illahi Rabbi, Kita tidak tahu kapan waktu kita kan habis, kapan malaikat maut akan menjemput kita, Entah dengan sapaan yang baik atau dengan suara yang menggelegar. 
Setiap perjalanan pasti memerlukan bekal dan perlengkapan dalam prosesnya menuju tempat tujuan.
Salah satu bekal kita baik dalam menempuh kehidupan di dunia maupun akhirat adalah ILMU, Ilmu hanya dapat diraih dengan pengorbanan, pengorbanan waktu dan pikiran. 
Pengorbanan bukanlah hal yang mudah, pengorbanan harus di lakukan dengan USAHA maksimal, usaha maksimal hanya dapat diraih dengan SEMANGAT, semangat didapat dengan NIAT.

Sahabatku
Mungkin dalam menjalani kehidupan sebagai pelajar pernah terbesit didalam hati kita, "Duh, Susah banget sih nih" atau "Gak mungkin nih ana bisa belajar ini pelajaran" atau "Gak guna banget sih belajar ini". Mari kita ubah Niat dan persepsi kita, mari lah kita niatkan mencari ilmu bukan karena untuk mendapatkan pujian dari orang lain, bukan karena disuruh, tapi niatkanlah "Saya Niat mencari ilmu karena Allah" Yakinlah dunia ini adalah medan pertempuran kita, di setiap medan pertempuran pasti ada halang rintang yang menghadang yang harus kita lewati.

Dalam suatu hadits dikatakan:
Abu Hurairah ra, berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga." 
(h.r. Muslim)

Anas ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia termasuk di jalan Allah sampai ia kembali."
(h.r Tirmidzi. Ia berkata, "Hadits ini hasan.")

Abu Hurairah ra. berkata , Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa belajar ilmu karena Allah, namun ia mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma surga di hari kiamat kelak."
(h.r. Abu Daud dengan sanad shahih)

Sahabatku
Yakinlah bahwa seluruh cobaan dunia yang diberikan Allah kepada kita adalah semata-mata untuk menjadikan diri kita pribadi yang kokoh, Iman yang Kuat dan agar kita menjadi orang yang selalu merasa kurang dan terus ingin meningkatkan diri dan tidak menjadi insan yang sombong terhadap yang di dapatnya.

Jangan pernah menyerah terhadap cobaan yang dihadapi, Mari keluarkan Usaha terbaik, diikuti oleh do'a, apabila kita sudah mengeluarkan semua yang kita dapat dan hasilnya kurang setimpal, maka jangan lah mengeluh, ataupun menyalahkan Allah swt, janganlah kita menjadi galau, masih banyak yang dapat kita lakukan di dunia ini, dan dunia tidak akan berakhir apabila kita gagal dalam 1 hal, INGAT dan YAKIN lah sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana terhadap segala hal, dan jika Allah mengambil suatu hal dari dirimu, sesunggunya Dia semata-mata sedang mempersiapkan hal yang lebih baik untuk dirimu.

Sesungguhnya Allah mengetahui hal yang terbaik bagi hamba-Nya
"Tidaklah Allah membebani hambanya melainkan sesuai dengan batas kemampuannya..." (Q.S. Al-Baqarah 286)

Tiada hasil tanpa USAHA, tiada usaha tanpa PENGORBANAN, tiada pengorbanan tanpa SEMANGAT, tiada semangat tanpa IMAN dan tiada iman tanpa NIAT

JANGAN MENYERAH SAHABAT !! LAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA KITA!
YAKINLAH ALLAH SWT SELALU BERSAMA KITA!!

Cobaan akan mempertebal Imanmu  
Kegagalan membuatmu Terlatih untuk jatuh 
Dan tiada hal yang lebih indah melainkan menyerahkan keputusan terbaik kepada Yang Maha Indah

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak manfaat bagi orang lain”
{H.R. Bukhari}.

Labels:

Tuesday, October 14, 2014

Jalan Juang Dakwah, Bukan Sekedar Cerita...

Ku merindu, saat-saat kita bersama, tiap lonceng pulang sekolah berdentang, jam 3 sore tak kurang dan tak lebih, berduyun-duyun ratusan pasang sepatu lengkap dengan celana dan rok abu-abu, menyerbu turun bagaikan lebah keluar dari sarang, mencari jalan kembali ke peraduan masing-masing.
Namun, hal tersebut tidak berarti bagi kalian, kalian yang selalu ada, bertengger di tepi “rumah” kita, rumah perjuangan.  Berkumpul di ruangan hijau, lengkap dengan mimbar dan sajadah terbentang, tempat berkumpulnya para pejuang, menjadi rutinitas harian masing-masing insan, insan yang siap mengorbankan jiwa raganya untuk mengatakan bahwa yang Haq adalah Haq, dan yang Bathil adalah bathil, sembari menegakkan panji Islam yang telah lama kusam, sungguh islam tiada lengkap tanpa kehadiran pemuda seperti kalian. 
Selalu ada topik menarik yang terbahas dari lisan mu, wahai sahabat. Sembari melepas penat seusai menuntut ilmu dunia, mulai dari berdebat, saling tertawa lepas,bercengkrama, hingga  bercerita tentang bermacam hal, sirah nabawaiyah, tafsir Hadits sampai tafsir Qur’an  pernah terbahas bersamamu. Mulai dari menjadi mentii, hingga menjadi murobbi, tak terasa telah berlalu waktu-waktu indah bersama kalian. Hal yang tidak lagi kudapati di hari sekarang, di tempat ku berada. 
Dan di rumah perjuangan ini pernah menggaung nama kita, di rumah perjuangan lah semua ini bermula, rumah perjuangan ini menjadi saksi bisu akan kebersamaan  kita, dan mengakhiri  perjuangan panjang yang telah kita tempuh bersama, bersama kalian wahai saudaraku, dibawah satu panji, bernama Islam. Dibawah satu persatuan, Ukhuwah Islamiah. 
Bermula dari tak kenal, menjadi sahabat. Dari sahabat menjadi saudara seperjuangan, dan dari saudara seperjuagan ini, tak akan lekang ukhuwah kita, walau terkikis waktu, walau terpisahkan antar pulau, walau berbeda jalur cita-cita, tapi, tetap terasa kehadiran kalian, api semangat para mujahid pilihan, mujahid yang siap memperjuangkan panji Allah. 
Tak akan ada insan yang bisa menggantikan nama kalian di buku catatan sejarah mujahid, tak akan ada suara yang dapat menandingi Getaran Takbir yang selalu kita lantunkan seusai Syuro’, dan tak ada semangat yang lebih besar selain semangat Jihad Fii Sabilillah kalian. 
         Kalian lah yang menjadi angin sejuk dikala cobaan menghadang, kalian lah yang menjadi pemacu semangat dikala futur datang menyapa, disaat kita saling berbagi semangat, berbagi  motivasi, berbagi ilmu, dan berbagi do'a. 
Teriring do’a untuk untukmu wahai saudaraku, sahabat perjuangan, sungguh, tak terasa lengkap perjalanan ini tanpa kehadiranmu, Semoga kita dipertemukan lagi di kesempatan selanjutnya, sebaik-baiknya kesempatan, Fii Jannatillah.
Ana Uhibbuki Fillah...
Semoga kita masih dapat mengucapkan takbir bersama lagi, tak kurang seorang pun.. 
dan melanjutkan catatan perjalanan ini... bersama lagi..

Teruntuk Saudara Seperjuanganku
Para Pejuang Dakwah dimanapun kalian berada...



Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri” (H.R Bukhari dan Muslim)