Sang Musafir
Engkau kata, hidup ini Fana..
Tapi kau tak dapat lengah dari kesemuan
Kicau burung kau dengar eloknya
Bila Tak mengerti, tak apa, sekira merdu sampai telinga
Tak kira tadarus, hanya terucap di ujung lidah
Tak kira pun kau artinya, asal buku tak lagi berdebu, puaskan hatimu
Seakan hanya retorika mimpi
Tak elok kau lihat ukirannya
Kalimat Tuhan kau ingkari
Kau bilang, Akhirat tujuan utama
Seruan Tuhanpun tak kau hiraukan
Kau sibuk dengan hiruk pikuk dusta
terlampau sepi, termakan olokan
Kau Lihat matahari terbenam
Merahnya membakar langit
bak memanggil ke peraduan sepi
Tapi Jiwa terperosok dalam kefanaan
Tak lekang akan waktu, kian mengikis, menipis
Kau ingin senyuman, pun belum pernah kau beri
Kau ingin canda tawa, raut kelam kau beri
Kau ingin kembali, rindupun kau sekap dalam
Kau ingin bahagia, derai tangispun kau tahan
Dan kini,
Kau tersimpuh, lelah, katamu lirih
Pelik perjalanan mu kau bungkus rapat
Ukiran baru pun kau ulas
Berharap, Berandai, Bersenandung
Kiranya menghapus mushaf yang tercoreng
Kini Kau tutup kesunyian malam nan sepi
Tidur pulas menutup malam mu
Seakan menjadi penutup singgasana, rapih tertata
"Pertemukanlah ku denganmu esok hari"
Dalam deraian penyesalan, Kau coba lupakan
Dalam balutan malam nan dingin, kau balut luka lama
Dalam hati terkelupas kata sejuta makna,
Tersipuh lirih, ditemani lambaian rumput,
Sapaan angin malam menyentuh kulit
"Selamat Malam Musafir"
Untuk mu dengan sejuta kenangan dan Lambaian Masa Lalu
Selamat Mengukir sejarah wahai Musafir..
Salam, Muhamad Ikhsan Nurmansyah
Labels: Poetry

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home