Ketika Amanah Menjadi Ghanimah
Bismillahirrahmanirrahim
Selamat pagi Sahabatku
sebenarnya bingung juga mau mulai darimana ya.. tapi karena memang sudah tertumpuk di uneg-uneg terdalam, tidak lengkap rasanya kalau tidak dituangkan dalam secercah tulisan..
sebenarnya bingung juga mau mulai darimana ya.. tapi karena memang sudah tertumpuk di uneg-uneg terdalam, tidak lengkap rasanya kalau tidak dituangkan dalam secercah tulisan..
Sebentar lagi (atau sudah lewat) akan berlangsung sebuah episode tahunan, sebuah acara, kegiatan, yang orang sekarang menamakannya “Pesta Demokrasi Mahasiswa”, “Pesta Pemilihan Raya Mahasiswa”, dan banyak lagi sebutan untuk sebuah acara yang bagi orang-orang sekarang sangat prestigious. Apapun mereka menyebutnya, tidak masalah, tidak ada yang salah dengan Sebuah “Pesta”, tidak ada yang salah dengan “Pemilihan”, karena dalam sebuah Nama tergantung sebuah harapan, layaknya orang tua yang menamakan nama anaknya “Ihsan”, berarti orang tua tersebut ingin anaknya menjadi “Al-Ihsan”, yang Maha mencintai kebaikan. Tidak ada yang salah dalam do’a, harapan kedua orang tua tersebut, yang menjadi problema adalah bagaimana sang anak bertingkah, kesadaran, bahwa terdapat harapan yang besar dalam do’a tersebut, masalah do’a itu nantinya tertempel atau tidak, itu beda urusan.
Entahlah, apakah saya adalah
orang yang naif yang ketinggalan zaman, atau saya terlalu berpegang teguh pada
prinsip yang sudah ada pada diri saya sejak dulu, atau.... yah sudahlah, tidak
usah dipikirkan.
Oke, saya akan masuk ke inti problema yang sepertinya sudah sangat mengakar di pemikiran kita sekarang—setidaknya di orang-orang sekitar saya. Apa yang terjadi di tempat ku menimba ilmu ? sebuah idealisme (mungkin) atau apapun anda menyebutnya, sebuah harapan munculnya calon-calon pemimpin organisasi, ya “calon-calon”, makna jamak yang sangat ditekankan, telah menjadi sebuah Standar dasar, bahwa keberhasilan organisasi terletak pada banyaknya calon-calon yang mengajukan diri untuk duduk sebagai pemangku kebijakan, perantara antar penerima kebijakan dan penyuara kebijakan. Sayangnya, saya kurang sependapat dengan hal ini.
Oke, saya akan masuk ke inti problema yang sepertinya sudah sangat mengakar di pemikiran kita sekarang—setidaknya di orang-orang sekitar saya. Apa yang terjadi di tempat ku menimba ilmu ? sebuah idealisme (mungkin) atau apapun anda menyebutnya, sebuah harapan munculnya calon-calon pemimpin organisasi, ya “calon-calon”, makna jamak yang sangat ditekankan, telah menjadi sebuah Standar dasar, bahwa keberhasilan organisasi terletak pada banyaknya calon-calon yang mengajukan diri untuk duduk sebagai pemangku kebijakan, perantara antar penerima kebijakan dan penyuara kebijakan. Sayangnya, saya kurang sependapat dengan hal ini.
Saya kurang sepakat, kenapa ? Di
kalimat sebelumnya, tertera bahasa “Calon-calon yang mengajukan diri”, apakah
mereka yang mengajukan diri untuk menjadi orang nomor 1 di jagad pemerintahan
semu, bisa dibilang PEMIMPIN ? Jika anda berpendapat bahwa Keberhasilan seorang
pemimpin dinilai dari jiwa Kepemimpinan yang dihasilkannya, saya sepakat.
Mungkin anda bertanya “Mengapa ? Apa bedanya ?” Sekarang, apa tujuan anda berbagi pengetahuan, sharing pengalaman, --mungkin sering disebut “kaderisasi—kepada anggota rekan-rekan anda ? Apakah anda bertujuan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang siap terjun di dunia nyata, atau melahirkan orang-orang yang haus akan “Kepemimpinan” ?
Seorang berjiwa kepemimpinan bisa menjadi
seorang Pemimpin dimanapun dia berada, tidak terbatas akan gelar, tidak
terbatas geografis, tiap orang bisa melihatnya sebagai orang yang baik, dapat
dipercaya, dan lain sebagainya..
Dan, yang terjadi saat tidak
tercapainya calon pemimpin yang lebih dari satu, banyak stigma ataupun opini
yang bertebaran, entah bercanda, entah guyonan, ataupun serius,,
“Cuma 1 ya sob ? Waah gak serulah gak ada pemilihan ya”
“Cuma 1 ya sob ? Waah gak serulah gak ada pemilihan ya”
“Waah, harusnya kamu dorong lagi
biar lebih dari 1 pasang sob”
Dan lain lain, itu hanyalah
segelintir contoh kalimat yang saya parafrase-kan disini.
Seolah parameter keberhasilan sebuah
organisasi terletak hanya pada satu hal tersebut. Seolah mencederai sebuah adat
istiadat, sebuah kebiasaan yang sudah melalang buana dimana-mana, “mencederai
demokrasi” kata mereka, saya hanya bisa tersenyum lebar setiap kali ada orang
yang membahas demokrasi dan kepemimpinan ini.
Sejak Kapan Amanah menjadi Permen yang dapat diberikan sesuka hati kepada siapapun ?
Sejak Kapan Amanah menjadi Ghanimah (Harta Rampasan perang) yang diperebutkan ?
Sejak kapan pemikulan Amanah menjadi sebuah pesta yang patut kita rayakan ?
Sehebat itukah Amanah di mata mu, Saudaraku ?
Silahkan menjawab pertanyaan saya
dibawah ini,
Bukankah, seorang Saiyidina Abu
Bakar Menolak habis-habisan untuk menerima sebuah Amanah sebagai Khalifah, yang
menggantikan Sang Uswatun Khsanah yang mendahului kita ?
Apakah, Amir (panglima perang) terhebat sepanjang masa, Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstatinopel, dipilih dengan begitu mudahnya ? dirayakan pengangkatan nya sebagai seorang Panglima Perang ?
Dan saya masih memendam prinsip
ini hingga detik ini..
Semoga dapat menjadi sebuah
referensi pemikiran, bukan doktrinasi, hanya sebuah opini...
---------------------------------------------------------------------------------
Karena hanya orang-orang “nekat”
yang berani menerima Amanah, dimana Gunung Hancur lebur saat diberikan kepadanya,
Matahari Terpadam, dan Alam semesta tertunduk tak mampu memikul, dan kini, kita
memperebutkannya bagai semut yang mengelilingi gula..
---------------------------------------------------------------------------------
Rasululllah saw. bersabda, “Apabila
amanah telah disia-siakan, tunggulah kedatangan hari kiamat.” Abu Hurairah
bertanya kepada Nabi Muhammad saw, ‘bagaimana menyi-nyiakan itu wahai
Rasulullah ?.”
Beliau Menjawab “Apabila suatu
urusan diserahan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah datangnya hari kiamat.”
(HR. Bukhari.)
Labels: Tulisanku

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home