Jalan Juang Dakwah, Bukan Sekedar Cerita...
Ku merindu, saat-saat kita bersama, tiap lonceng pulang sekolah berdentang, jam 3 sore tak kurang dan tak lebih, berduyun-duyun ratusan pasang sepatu lengkap dengan celana dan rok abu-abu, menyerbu turun bagaikan lebah keluar dari sarang, mencari jalan kembali ke peraduan masing-masing.
Namun, hal tersebut tidak berarti bagi kalian, kalian yang selalu ada, bertengger di tepi “rumah” kita, rumah perjuangan. Berkumpul di ruangan hijau, lengkap dengan mimbar dan sajadah terbentang, tempat berkumpulnya para pejuang, menjadi rutinitas harian masing-masing insan, insan yang siap mengorbankan jiwa raganya untuk mengatakan bahwa yang Haq adalah Haq, dan yang Bathil adalah bathil, sembari menegakkan panji Islam yang telah lama kusam, sungguh islam tiada lengkap tanpa kehadiran pemuda seperti kalian.
Selalu ada topik menarik yang terbahas dari lisan mu, wahai sahabat. Sembari melepas penat seusai menuntut ilmu dunia, mulai dari berdebat, saling tertawa lepas,bercengkrama, hingga bercerita tentang bermacam hal, sirah nabawaiyah, tafsir Hadits sampai tafsir Qur’an pernah terbahas bersamamu. Mulai dari menjadi mentii, hingga menjadi murobbi, tak terasa telah berlalu waktu-waktu indah bersama kalian. Hal yang tidak lagi kudapati di hari sekarang, di tempat ku berada.
Dan di rumah perjuangan ini pernah menggaung nama kita, di rumah perjuangan lah semua ini bermula, rumah perjuangan ini menjadi saksi bisu akan kebersamaan kita, dan mengakhiri perjuangan panjang yang telah kita tempuh bersama, bersama kalian wahai saudaraku, dibawah satu panji, bernama Islam. Dibawah satu persatuan, Ukhuwah Islamiah.
Bermula dari tak kenal, menjadi sahabat. Dari sahabat menjadi saudara seperjuangan, dan dari saudara seperjuagan ini, tak akan lekang ukhuwah kita, walau terkikis waktu, walau terpisahkan antar pulau, walau berbeda jalur cita-cita, tapi, tetap terasa kehadiran kalian, api semangat para mujahid pilihan, mujahid yang siap memperjuangkan panji Allah.
Tak akan ada insan yang bisa menggantikan nama kalian di buku catatan sejarah mujahid, tak akan ada suara yang dapat menandingi Getaran Takbir yang selalu kita lantunkan seusai Syuro’, dan tak ada semangat yang lebih besar selain semangat Jihad Fii Sabilillah kalian.
Kalian lah yang menjadi angin sejuk dikala cobaan menghadang, kalian lah yang menjadi pemacu semangat dikala futur datang menyapa, disaat kita saling berbagi semangat, berbagi motivasi, berbagi ilmu, dan berbagi do'a.
Ana Uhibbuki Fillah...Teriring do’a untuk untukmu wahai saudaraku, sahabat perjuangan, sungguh, tak terasa lengkap perjalanan ini tanpa kehadiranmu, Semoga kita dipertemukan lagi di kesempatan selanjutnya, sebaik-baiknya kesempatan, Fii Jannatillah.
Semoga kita masih dapat mengucapkan takbir bersama lagi, tak kurang seorang pun..
dan melanjutkan catatan perjalanan ini... bersama lagi..
Teruntuk Saudara Seperjuanganku
Para Pejuang Dakwah dimanapun kalian berada...
Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri” (H.R Bukhari dan Muslim)

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home